Apa akibatnya jika kita mengetahui ketepatan dan bukannya
proses belajar perseorangan? Mari kita lihat:
Guru
taman kanak-kanak Budi bertanya kepada anak-anak sekelas, “Berapa satu tambah
satu?” Merasa yakin tahu jawabannya, Budi hampir tidak dapat tetap duduk di
kursinya karea melambaikan tangan dengan kalut. Gurunya akhirnya menyebut
namanya, dan dengan penuh percaya diri Budi tersenyum dan menjawab “Satu tambah
satu sama dengan tiga!” Gurunya tersenyum dengan simpatik sambil berkatan,
“Bukan, itu salah. Santi, kamu tahu tidak, jawaban yang benar?” dan seterusnya.
Sementara itu, anak-anak lian diam-diam menertawakan Budi dan seluruh
pengalaman tersebut mengubah dirinya. Sekarang, dengan merasa kalah dan
mendapat pelajaran penting, dia berkata pada dirinya, “Jangan berbuat itu lagi!
Jangan mengangkat tangan kecuali jika kau sangat yakin jawabanmu tepat.” Jadi
dia tidak melakukannya lagi, dan sikap ini menempel terus. Budi telah
mengasosiasikan pengakuan dengan keTEPATan dan dia menyimpan yang dia pelajari
untuk dirinya sendiri.
Tanggapan
apa yang sebaiknya diberikan gurunya yang mengakui usahanya ke arah belajar,
tetapi tetap memberitahukan jawabannya tidak tepat?
Sambil tersenyum guru Budi dapat berkata, “Budi, kamu sudah
maju sekali! (pujian) Tiga adalah jawaban satu tambah DUA, tapi kita belum
sampai kesana. Wah, cepat sekali kamu maju. Jadi, jika satu tambah DUA adalah
tiga, bagaimana kalau kita mundur sedikit ke satu tambah satu? Apa jawabannya
menurut kamu?
Sumber : dePorter, B dkk. 1999. Quantum Teaching. Kaifa: Jakarta