Cari Blog Ini

Rabu, 08 Juni 2011

Firasat - cerpen -

Tiga minggu ini di bulan puasa, Nina benar-benar merasa sesuatu yang aneh pada Rani. Sikapnya mulai berubah, tak seperti Rani kecil dulu. Buktinya selama Rani ada di rumah Nina, Ia selalu membantu Ibunya memasak didapur, padahal dia sama sekali tidak bisa memasak. Dia juga sering membantu nenekku saat beliau kesulitan. Dulu Rani kecil, selalu meminta bantuan setiap Ia melakukan sesuatu, bahkan sampai kita sudah beranjak remaja di MTs, dia masih saja manja. Tapi aku benar-benar heran akan perubahan sifatnya.

Lima hari sebelum hari raya, Rani menjadi-jadi, Nina sudah tak mengenali Rani lagi. Sekarang dia sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Entah atas bisikan siapa, Nina merasa bahwa ajal Rani telah dekat. Dulu ayahnya juga memperlihatkan tanda-tanda yang sama, saat mendekati ajalnya. Kali ini dia tidak boleh kecolongan lagi. Rani sekarang bukan Rani yang dulu. Rani jadi suka membantu orang lain, lebih rajin sholat, lebih santun, tidak suka malas-malasan saat ada waktu luang. Dalam batin, Nina berkata, “Oh Tuhan…! Sebenarnya aku tak mau berburuk sangka tentang semua perubahan yang dialami Rani. Harusnya aku bahagia, melihat sahabatku yang semakin baik perilakunya, bukannya malah su’udzan dengannya. Namun, entah mengapa firasat itu selalu saja mengahntuiku, saat melihat Rani. Aku malah sempat membayngkannya terbujur kaku, terbungkungkus kain puyih dan terkubur dalam-dalam, pasti sangat sepi dan merasa sedih.”

Tiga hari menjelang hari raya Idul Fitri, Nina mulai resah dan takut kehilangan sahabat tersayangnya. Dia sempat berpikir untuk membahagiakan dan melakukan sesuatu yang bermakna dalam hidupnya, agar Rani tenang di alam sana. Selam tiga hari itu, Nina selalu mengikuti Rani kemanapun Ia pergi, memberikan semua barang yang isa sayangi pada Rani, melakukan sesuatu yang Rani sukai walau sebenarnya Nina tidak menyukainya. Anehnya, walaupun Niana melakukan semua itu, Rani langsung saja menerimanya, padahal Nina melakukannya secara berlebihan. Dan selama Rani masih di rumah Nina, maka selalu saja Nina dihantui firasat itu.

Subuh, sebelum sholat Id, Nina mengantarkan Rani pulang, karena itu permintaan Rani, Nina tidak bisa menolak. Dengan berjalan kaki, hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai kerumah Rani. Rani memaksa Nina untuk masuk kerumahnya, tapi Nina harus segera pulang untuk mempersiapkan diri mengikuti sholat Id berjamaah. Ranipun tak bisa mengelak. Rani berkata, “Kamu harus janji! Setelah Sholat Id, kamu kesini ya..!” Nina mengangguk dan segera menyeberangi jalan raya di depan rumah Rani. Saat Rani hendak masuk rumah, tiba-tiba terdengar suara mobil yang direm dengan kuat, juga terdengar jeritan seorang gadis. Suara jeritan itu, seperti tak asing bagi Rani. Ia segera berlari ke depan rumahnya dan melihat sahabatnya terkolek lemah bersimbah darah. “Nina…!!”, kata Rani menjerit sembari berlari menghampiri Nina di tengah jalan. Rani membatin, “Padahal, aku ingin menunjukkan sesuatu yang kamu tunggu-tunggu selama ini, aku tau dan aku sudah punya firasat ini, makanya kamu aku paksa mengantarku subuh-subuh seperti ini, hanya untuk menujukkan bahwa Novel yang kamu buat untukku tahun lalu, memenangi lomba menulis novel remaja se-Indonesia, ya, aku mengirimkanny diam-diam atas namamu. Tapi mengapa kamu pergi lebih dulu?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar