Oleh : Sofiya Nurjanah /
110341421576 / Pend.Biologi / Offr. C / UM
Banyak pendapat mengatakan bahwa kemampuan menulis
mahasiswa di Indonesia tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor seperti, kurangnya minat baca mahasiswa, keprofesionalan badan
penyeleksi yang juga masih kurang dan ditambah dengan maraknya plagiat karya
ilmiah antar mahasiswa. Ketiga faktor utama tersebut berdampak pada minat
mahasiswa untuk menulis karya ilmiah
Faktor pertama penyebab kemampuan menulis mahasiswa yang
rendah adalah kurangnya minat baca mahasiswa. Pustakawan STIE Perbanas
Surabaya, Setiawan Hartadi mengatakan bahwa, negara disebut maju dan berkembang
kalau penduduknya atau masyarakatnya mempunyai minat baca yang tinggi dengan
dibuktikan dari jumlah buku yang diterbitkan dan jumlah perpustakaan yang ada
di negeri tersebut. Ini berarti minat baca mempengaruhi minat dan kemampuan
menulis seseorang. Saat minat baca mahasiswa rendah, pengetahuan yang diperoleh
tidak banyak, menyebabkan tidak banyak ide yang muncul untuk dituliskan dalam
karya ilmiah. Dan kalau memang sudah ada keinginan untuk menulis karya ilmiah
namun tidak diimbangi dengan minat baca yang tinggi, maka ide yang di hasilkan
pun pasti biasa-biasa saja. Dengan minat baca yang tinggi, pengetahuan yang di
peroleh akan semakin banyak, pola pikir mahasiswa pun akan berkembang dan
kemudian timbul rasa keingintahuan. Rasa ingin tahu inilah yang kemudian dapat
menimbulkan gagasan atau ide yang bisa dituangkan dalam karya ilmiah. Dari
sinilah minat mahasiswa untuk menulis karya ilmiah pun akan semakin tinggi. Dan
seiring dengan minat menulis yang tinggi, maka akan tumbuh pula kemampuan
mahasiswa untuk menulis karya ilmiah yang bagus.
Faktor selanjutnya yaitu keprofesionalan badan penyeleksi
lomba karya ilmiah juga dirasa masih kurang. Maksud dari keprofesionalan yang
kurang disini adalah tidak tertib atau tidak profesional. Salah satu mahasiswa
sebuah universitas negeri yang pernah mengikuti lomba karya ilmiah menyatakan
bahwa, penyeleksian lomba karya ilmiah di universitasnya tidak logis, lebih
dari 80 judul karya ilmiah diseleksi hanya dalam waktu satu hari. Bahkan beberapa
judul yang lolos seleksi menimbulkan kontroversi dikalangan mahasiswa peserta
lomba lainnya. Hal ini tidak mungkin terjadi apabila pihak fakultas atau
universitas mempersiapkan seleksi itu dengan baik. Yaitu dengan mempersiapkan
dari jauh-jauh hari, menetapkan aturan yang tegas kapan pendaftaran terakhir
dan kapan pengumpulan karya terakhir dan tidak mengundur-undur jadwal yang
akhirnya berakibat pada penyeleksian yang terkesan asal-asalan. Apabila pihak
penyeleksi lomba karya ilmiah terbuka untuk menerima saran dan kritik dan
selalu berbenah diri untuk bekerja secara professional, maka mahasiswa akan
semakin terpacu untuk membuat karya ilmiah sebagus mungkin. Mereka akan merasa
banyak pesaing yang harus ditumbangkan. Bukannya berharap karya ilmiahnya lolos
karena keberuntungan dari kelalaian pihak penyeleksi lomba karya ilmiah.
Maraknya plagiat karya ilmiah yang terjadi antara
mahasiswa juga merupakan faktor penyebab rendahnya kemampuan mahasiswa dalam
menulis karya ilmiah. Faktor ini dirasa sangatlah merugikan bagi mahasiswa yang
menulis karya ilmiahnya berdasarkan ide asli yang berasal dari pemikirannya.
Ide asli yang kemudian didukung dengan literature terkait. Bukannya ide
sepintas yang kebetulan sama dengan karya ilmiah yang tidak terseleksi, kemudian
menjiplaknya dan melakukan sedikit perubahan pada data-data yang sudah ada
dengan cara mengarangnya, selanjutnya diikutsertakan lomba karya ilmiah
selanjutnya. Inilah yang dinamakan plagiat. Hal ini sangatlah merugikan bagi
penulis aslinya, mungkin sang penulis belumlah menemukan format yang bagus atau
literature yang cocok dalam mendukung idenya dalam karya ilmiah yang tidak
terseleksi tersebut. Seharusnya sang penulis juga tidak boleh menyerah begitu
saja, mungkin apabila dengan melakukan perbaikan-perbaikan dan berkonsultasi
lebih lanjut dengan dosen pembimbing, gagasan tersebut bisa diterima dan bahkan
didanai. Para plagiatlah yang menjadikan mahasiswa yang aktif dan kreatif
enggan untuk berpartisipasi dalam lomba penulisan karya ilmiah. Dan saat mahasiswa
enggan menulis, tentu saja kemampuan dalam menulis karya ilmiah menjadi sangat
rendah.
Ketiga faktor itulah yang membuat mahasiswa Indonesia
memiliki kemampuan menulis karya ilmiah yang sangat rendah. Para dosen,
pemerintah dan bahkan mahasiswa sendiri lah yang harus berbenah diri. Hendaknya
para dosen tidaklah pernah lelah memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang
memiliki semangat dan ide-ide kreatif yang bisa memunculkan suatu inovas.
Pemerintah memang sudah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada
mahasiswa untuk berkarya dalam bidang karya ilmiah dengan tidak membatasi
banyak judul yang akan diterima dan didanai, namun hendaknya selain itu
pemerintah juga memperhatikan hal-hal lain seperti menetapkan standar tenaga
ahli penyeleksi yang memiliki professional kerja tinggi dan para plagiat, bukan hanya melakukan
diskualifikasi. Karena diskualifikasi tidak akan membuat para plagiat enggan
karena tidak ada dampak panjang dari perbuatannya. Mungkin dengan memberikan
skorsing kuliah atau diberi label berperilaku tidak baik yaitu melakukan
penjiplakan selama kuliah, akan membuat para plagiat enggan dan akan berusaha
membuat karya ilmiah dengan kemampuannya sendiri.Mahasiswa juga tidak luput
dari tanggung jawab untuk berbenah diri, hendaknya saling menghargai karya
sesame mahasiswa agar tidak pernah timbul keinginan untuk melakukan penjiplakan
dan meningkatkan kesadaran pentingnya minat baca agar meningkat pula kemampuan
menulis karya ilmiah.
blog mu a... glethek ae....!!!!!!
BalasHapusopo mbak bro haha
BalasHapuswah ini nih mantap, nice ya!
BalasHapus