Cari Blog Ini

Kamis, 16 Februari 2012

RENDAHNYA KEMAMPUAN MAHASISWA DALAM MENULIS KARYA ILMIAH


Oleh : Sofiya Nurjanah / 110341421576 / Pend.Biologi / Offr. C / UM
            Banyak pendapat mengatakan bahwa kemampuan menulis mahasiswa di Indonesia tergolong rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti, kurangnya minat baca mahasiswa, keprofesionalan badan penyeleksi yang juga masih kurang dan ditambah dengan maraknya plagiat karya ilmiah antar mahasiswa. Ketiga faktor utama tersebut berdampak pada minat mahasiswa untuk menulis karya ilmiah
            Faktor pertama penyebab kemampuan menulis mahasiswa yang rendah adalah kurangnya minat baca mahasiswa. Pustakawan STIE Perbanas Surabaya, Setiawan Hartadi mengatakan bahwa, negara disebut maju dan berkembang kalau penduduknya atau masyarakatnya mempunyai minat baca yang tinggi dengan dibuktikan dari jumlah buku yang diterbitkan dan jumlah perpustakaan yang ada di negeri tersebut. Ini berarti minat baca mempengaruhi minat dan kemampuan menulis seseorang. Saat minat baca mahasiswa rendah, pengetahuan yang diperoleh tidak banyak, menyebabkan tidak banyak ide yang muncul untuk dituliskan dalam karya ilmiah. Dan kalau memang sudah ada keinginan untuk menulis karya ilmiah namun tidak diimbangi dengan minat baca yang tinggi, maka ide yang di hasilkan pun pasti biasa-biasa saja. Dengan minat baca yang tinggi, pengetahuan yang di peroleh akan semakin banyak, pola pikir mahasiswa pun akan berkembang dan kemudian timbul rasa keingintahuan. Rasa ingin tahu inilah yang kemudian dapat menimbulkan gagasan atau ide yang bisa dituangkan dalam karya ilmiah. Dari sinilah minat mahasiswa untuk menulis karya ilmiah pun akan semakin tinggi. Dan seiring dengan minat menulis yang tinggi, maka akan tumbuh pula kemampuan mahasiswa untuk menulis karya ilmiah yang bagus.
            Faktor selanjutnya yaitu keprofesionalan badan penyeleksi lomba karya ilmiah juga dirasa masih kurang. Maksud dari keprofesionalan yang kurang disini adalah tidak tertib atau tidak profesional. Salah satu mahasiswa sebuah universitas negeri yang pernah mengikuti lomba karya ilmiah menyatakan bahwa, penyeleksian lomba karya ilmiah di universitasnya tidak logis, lebih dari 80 judul karya ilmiah diseleksi hanya dalam waktu satu hari. Bahkan beberapa judul yang lolos seleksi menimbulkan kontroversi dikalangan mahasiswa peserta lomba lainnya. Hal ini tidak mungkin terjadi apabila pihak fakultas atau universitas mempersiapkan seleksi itu dengan baik. Yaitu dengan mempersiapkan dari jauh-jauh hari, menetapkan aturan yang tegas kapan pendaftaran terakhir dan kapan pengumpulan karya terakhir dan tidak mengundur-undur jadwal yang akhirnya berakibat pada penyeleksian yang terkesan asal-asalan. Apabila pihak penyeleksi lomba karya ilmiah terbuka untuk menerima saran dan kritik dan selalu berbenah diri untuk bekerja secara professional, maka mahasiswa akan semakin terpacu untuk membuat karya ilmiah sebagus mungkin. Mereka akan merasa banyak pesaing yang harus ditumbangkan. Bukannya berharap karya ilmiahnya lolos karena keberuntungan dari kelalaian pihak penyeleksi lomba karya ilmiah.
            Maraknya plagiat karya ilmiah yang terjadi antara mahasiswa juga merupakan faktor penyebab rendahnya kemampuan mahasiswa dalam menulis karya ilmiah. Faktor ini dirasa sangatlah merugikan bagi mahasiswa yang menulis karya ilmiahnya berdasarkan ide asli yang berasal dari pemikirannya. Ide asli yang kemudian didukung dengan literature terkait. Bukannya ide sepintas yang kebetulan sama dengan karya ilmiah yang tidak terseleksi, kemudian menjiplaknya dan melakukan sedikit perubahan pada data-data yang sudah ada dengan cara mengarangnya, selanjutnya diikutsertakan lomba karya ilmiah selanjutnya. Inilah yang dinamakan plagiat. Hal ini sangatlah merugikan bagi penulis aslinya, mungkin sang penulis belumlah menemukan format yang bagus atau literature yang cocok dalam mendukung idenya dalam karya ilmiah yang tidak terseleksi tersebut. Seharusnya sang penulis juga tidak boleh menyerah begitu saja, mungkin apabila dengan melakukan perbaikan-perbaikan dan berkonsultasi lebih lanjut dengan dosen pembimbing, gagasan tersebut bisa diterima dan bahkan didanai. Para plagiatlah yang menjadikan mahasiswa yang aktif dan kreatif enggan untuk berpartisipasi dalam lomba penulisan karya ilmiah. Dan saat mahasiswa enggan menulis, tentu saja kemampuan dalam menulis karya ilmiah menjadi sangat rendah.
            Ketiga faktor itulah yang membuat mahasiswa Indonesia memiliki kemampuan menulis karya ilmiah yang sangat rendah. Para dosen, pemerintah dan bahkan mahasiswa sendiri lah yang harus berbenah diri. Hendaknya para dosen tidaklah pernah lelah memberikan bimbingan kepada mahasiswa yang memiliki semangat dan ide-ide kreatif yang bisa memunculkan suatu inovas. Pemerintah memang sudah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk berkarya dalam bidang karya ilmiah dengan tidak membatasi banyak judul yang akan diterima dan didanai, namun hendaknya selain itu pemerintah juga memperhatikan hal-hal lain seperti menetapkan standar tenaga ahli penyeleksi yang memiliki professional kerja tinggi dan  para plagiat, bukan hanya melakukan diskualifikasi. Karena diskualifikasi tidak akan membuat para plagiat enggan karena tidak ada dampak panjang dari perbuatannya. Mungkin dengan memberikan skorsing kuliah atau diberi label berperilaku tidak baik yaitu melakukan penjiplakan selama kuliah, akan membuat para plagiat enggan dan akan berusaha membuat karya ilmiah dengan kemampuannya sendiri.Mahasiswa juga tidak luput dari tanggung jawab untuk berbenah diri, hendaknya saling menghargai karya sesame mahasiswa agar tidak pernah timbul keinginan untuk melakukan penjiplakan dan meningkatkan kesadaran pentingnya minat baca agar meningkat pula kemampuan menulis karya ilmiah.

3 komentar: